REVIEW
JURNAL
Judul
|
LOGIKA DILEMA
KEAMANAN ASIA TIMUR DAN RASIONALITAS PENGEMBANGAN SENJATA NUKLIR KOREA UTARA
|
Jurnal
|
Intermestic: Journal of International
Studies
|
Volume & Halaman
|
Vol. 02, Hal. 116-138
|
Tahun
|
2018
|
Penulis
|
M. Najeri Al Syahrin
|
Reviewer
|
FAJAR FIRDAUSI (180110301048)
|
Tanggal
|
07 Oktober 2019
|
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji
dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dan
kesehatan untuk menyelesaikan review Jurnal ini tanpa halangan apapun. Jurnal ini mengkaji
tentang rasionalitas pengembangan
senjata nuklir oleh
Korea Utara dikaitkan dengan dilema
keamanan di Asia
Timur. Penulis Jurnal ini bekerja di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, tepatnya dibidang Hubungan
Internasional dan Urusan Politik. Metodologi yang digunakan Penulis adalah Metode
Studi Literatur. Studi literatur adalah cara yang dipakai untuk menghimpun data-data
atau sumber-sumber yang berhubungan dengan topik yang diangkat dalam suatu
penelitian. Studi literatur bisa
didapat dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumentasi, internet dan pustaka.
ABSTRAK
Saya disini mencoba menulis secara singkat,
padat, dan jelas yang ada pada Jurnal ini seperti informasi apa saja yang ada
pada Jurnal ini. Jurnal ini membahas tentang dua Negara super power, yakni Korea Utara dan Amerika Serikat dalam
hubungannya yang dibawah ketidakpastian. Akhir-akhir ini terdapat peningkatan tensi keamanan yang telah
menciptakan kondisi kritis serta
menunjukkan kemungkinan terjadinya
perang di Asia Timur
akibat dari pengembangan
senjata nuklir Korea
Utara. Di sisi lain, Korea Utara dalam kesempatan
yang berbeda meyakinkan bahwa Korea Utara mengembangkan nuklir
hanya untuk menginginkan
jaminan keamanan dari
adanya kemungkinan serangan
yang dilakukan oleh Amerika
Serikat dan negara
aliansinya di Asia
Timur, yaitu Jepang dan Korea Selatan. Memang pengembangan nuklir
yang dilakukan oleh Korea Utara tidak secara langsung mengganggu stabilitas
keamanan Amerika dan aliansinya (Jepang dan Korea Selatan) terutama di
Semenanjung Korea. Namun akan menganggu keadaan lingkungan di sekitar proyek
pengembangan nuklir tersebut, hal inilah yang kemudian ditentang oleh Amerika
Serikat.
PENDAHULUAN
Ketakutan akan perang nuklir kedua negara pada awal 1980-an , adalah keadaan yang dikenal istilah Hobbesian Fear yaitu kondisi negara adikuasa hanya bersikap defensif terhadap provokasi negara lain tetapi tindakan tersebut justru menimbulkan kekhawatiran dari negara lain. Rasa khawatir dan ketidakpercayaan terhadap pihak lain dikarenakan terdapat perbedaan intepretasi motif dan ancaman. Pada prinsipnya, hal ini terlihat seperti kondisi keamanan yang kompatibel. Artinya, antarnegara baik Amerika Serikat dan negara aliansinya (Jepang dan Korea Selatan) tidak pernah secara langsung akan mengancam keamanan Korea Utara, mereka hanya menginginkan agar Korea Utara berhenti untuk mengembangkan program senjata nuklir yang dinilai sangat mengancam stabilitas keamanan kawasan. semakin kuat pertahanan dan sistem persenjataan negara-negara Asia Timur, maka Korea Utara merasa semakin terancam sehingga berupaya mengembangkan kebijakan nuklir untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan serta mengimbangi keunggulan militer Negara-negara lain di Asia Timur.
Kelebihan : Dalam jurnal ini, menjelaskan peran penting dari menjaga sebuah hubungan diplomatik dengan negara-negara di kawasan Asia Timur. Untuk pembanding dari Jurnal ini kalian bisa melihat Artikel dengan Judul "Isu Keamanan di Semenanjung Korea dan Upaya Damai Parlemen". Selain itu juga peristiwa semacam ini juga terjadi pada Iran yang juga mengembangkan senjata nuklir, namun AS tidak berani menyatakan secara terang-terangan kepada Iran terkait denuklirisasi. Menangani Korut bagi AS jauh lebih mudah dari menangani Iran. Sebab isu Korut jelas soal denuklirisasi, sementara Iran bisa merembet ke isu moral dan agama jika AS tidak hati-hati. Selain itu AS beranggapan bahwa isu nuklir Korut jauh lebih krusial dibandingkan nuklir Iran. Sebab, Iran sebenarnya hanya memiliki teknologi rudal tapi belum memiliki sistem persenjataan nuklir. Sementara itu, Korut memiliki senjata nuklir dan sistem persenjataannya. Isu nuklir Korut, juga sudah lama mengancam serta mempengaruhi sekutu-sekutu AS di Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan. Meski krusial, AS menganggap isu nuklir Korut lebih mudah ditangani, karena AS mendapat dukungan penuh dari tiga sekutunya itu bahkan dunia internasional soal denuklirisasi di Semenanjung Korea.
Kekurangan: Pada jurnal ini tidak disebutkan secara spesifik bagaimana solusi menjaga keamanan di Semenanjung Korea, sehingga siklus dilema keamanan akan terus terjadi. Pada jurnal ini juga tidak dicantumkan secara detail tanggal per tanggal dari kejadian penting antara hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat beserta aliansinya, untuk mengetahui detail tanggalnya kita bisa melihat laman SindoNews dengan judul "Timeline Kim jong-un dan Trump seteru nuklir hingga akur".
PENDAHULUAN
Ketakutan akan perang nuklir kedua negara pada awal 1980-an , adalah keadaan yang dikenal istilah Hobbesian Fear yaitu kondisi negara adikuasa hanya bersikap defensif terhadap provokasi negara lain tetapi tindakan tersebut justru menimbulkan kekhawatiran dari negara lain. Rasa khawatir dan ketidakpercayaan terhadap pihak lain dikarenakan terdapat perbedaan intepretasi motif dan ancaman. Pada prinsipnya, hal ini terlihat seperti kondisi keamanan yang kompatibel. Artinya, antarnegara baik Amerika Serikat dan negara aliansinya (Jepang dan Korea Selatan) tidak pernah secara langsung akan mengancam keamanan Korea Utara, mereka hanya menginginkan agar Korea Utara berhenti untuk mengembangkan program senjata nuklir yang dinilai sangat mengancam stabilitas keamanan kawasan. semakin kuat pertahanan dan sistem persenjataan negara-negara Asia Timur, maka Korea Utara merasa semakin terancam sehingga berupaya mengembangkan kebijakan nuklir untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan serta mengimbangi keunggulan militer Negara-negara lain di Asia Timur.
PEMBAHASAN
Banyak pihak beranggapan bahwa hampir semua Negara di wilayah Asia Timur semakin memperkuat pertahanan dan sistem persenjataan di Negara masing-masing. Hal inilah yang membuat Korea Utara merasa semakin terancam sehingga berupaya mengembangkan kebijakan nuklir untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan serta mengimbangi keunggulan militer negara-negara lain di Asia Timur. Ketakutan akan perang nuklir antara kedua Negara berkuasa hanya bersikap defensif terhadap provokasi negara lain tetapi tindakan tersebut justru itu menimbulkan kekhawatiran bagi negara lain.Selain kekhawatiran dan rasa takut akan ancaman serangan dari Negara lain dan kompleksitas keamanan kawasan yang ditandai rivalitas politik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan Cina, dilema keamanan di Semenanjung Korea juga disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, polaritas kekuatan kawasan dan kedua konstruksi sosial amity dan enmity. Pada Mei 2018, Donald Trump merencanakan pertemuan dengan Kim Jong-un untuk melakukan pembahasan nuklir, pertemuan tersebut diharapkan mampu menghasilkan komitmen untuk melakukan denuklirisasi dan menangguhkan uji coba nuklir dan rudal Korea Utara.
Banyak pihak beranggapan bahwa hampir semua Negara di wilayah Asia Timur semakin memperkuat pertahanan dan sistem persenjataan di Negara masing-masing. Hal inilah yang membuat Korea Utara merasa semakin terancam sehingga berupaya mengembangkan kebijakan nuklir untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan serta mengimbangi keunggulan militer negara-negara lain di Asia Timur. Ketakutan akan perang nuklir antara kedua Negara berkuasa hanya bersikap defensif terhadap provokasi negara lain tetapi tindakan tersebut justru itu menimbulkan kekhawatiran bagi negara lain.Selain kekhawatiran dan rasa takut akan ancaman serangan dari Negara lain dan kompleksitas keamanan kawasan yang ditandai rivalitas politik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan Cina, dilema keamanan di Semenanjung Korea juga disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, polaritas kekuatan kawasan dan kedua konstruksi sosial amity dan enmity. Pada Mei 2018, Donald Trump merencanakan pertemuan dengan Kim Jong-un untuk melakukan pembahasan nuklir, pertemuan tersebut diharapkan mampu menghasilkan komitmen untuk melakukan denuklirisasi dan menangguhkan uji coba nuklir dan rudal Korea Utara.
Upaya mempertahankan keamanan dan
kedaulatan menjadi prioritas utama bagi Korea Utara. Ideologi kemandirian juche yang
dicetuskan oleh pemimpin Korea Utara telah menjadi pedoman ideologi kebijakan
keamanan dan politik luar negeri.
Situasi lingkungan internasional yang
berubah sejak akhir tahun 1990-an menjadi kondisi lain yang mengkhawatirkan
bagi keamanan Korea Utara. Runtuhnya komunisme dan normalisasi
hubungan antara bekas sekutu Korea Utara telah mengancam eksistensi
rezim Korea Utara. Pada masa itu, Korea Utara, kemudian,
mulai memusatkan perhatian pada pengembangan senjata
nuklir Korea Utara bisa memiliki keuntungan untuk bertahan dari serangan musuh.
Korea Utara mencoba meningkatkan keamanan dengan cara membuat sistem pertahanan
berbasis nuklir, dilihat dari sisi historis, nuklit sangat terbilang ampuh
ketika untuk menghancurkan pertahan lawan. Sebagai contoh Kemampuan destruktif
nuklir yang mampu meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki serta menghentikan
Perang Dunia Kedua.Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan menilai bahwa
Korea Utara menjadi ancaman yang paling mengkhawatirkan bagi keamanan kawasan.
Di sisi lain, Korea Utara berdalih bahwa peningkatan anggaran militer dan
jalinan aliansi trilateral Amerika Serikat menjadi permasalahan timbulnya
dilema keamana di kawasan.
Pada akhirnya, kebijakan nuklir Korea Utara
menimbulkan aksi-reaksi dan memicu pem-bangunan militer sebagai
upaya perimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan
Asia Timur. Upaya suatu negara untuk meningkatkan militernya secara
tidak langsung akan me-lemahkan kekuatan militer negara lain dan memicu
negara-negara lain untuk ikut
serta mengembangkan kekuatan militer.
KESIMPULAN
Bahwa stabilitas
keamanan di Semenanjung Korea harus dijaga betul-betul demi tercapainya misi
perdamaian dunia yang dicanangkan oleh PBB. Keamanan di Semenanjung Korea
adalah milik dari 6 negara yakni Cina, Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Korea
Utara, dan Korea Selatan. Korea Utara, Korea Selatan, Jepang melakukan
peningkatan kekuatan militer yang didukung pula oleh pola hubungan persahabatan
(amity) dan per-musuhan (enmity) antar Amerika Serikat dan Cina, serta
bayang-bayang pengaruh Perang Dingin dari Uni Soviet. Perlu
Tokoh-tokoh penting dari Negara yang terlibat untuk mencoba berdamai demi
keamanan dunia, Namun, Pada akhirnya, siklus dilema keamanan akan terus terjadi
dan tidak berhenti di kawasan Asia Timur. Dilema keamanan tersebut akan men-ciptakan
dinamika perlombaan senjata yang sangat mengkhawatirkan bagi
stabilitas keamanan Asia Timur.
Terima kasih telah membaca Review Jurnal yang saya
tulis ini. Untuk saran dan komentar silahkan bisa mengisi kolom dibawah.
Mungkin itu saja yang dapat saya paparkan, sekian Review Jurnal ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Kelebihan : Dalam jurnal ini, menjelaskan peran penting dari menjaga sebuah hubungan diplomatik dengan negara-negara di kawasan Asia Timur. Untuk pembanding dari Jurnal ini kalian bisa melihat Artikel dengan Judul "Isu Keamanan di Semenanjung Korea dan Upaya Damai Parlemen". Selain itu juga peristiwa semacam ini juga terjadi pada Iran yang juga mengembangkan senjata nuklir, namun AS tidak berani menyatakan secara terang-terangan kepada Iran terkait denuklirisasi. Menangani Korut bagi AS jauh lebih mudah dari menangani Iran. Sebab isu Korut jelas soal denuklirisasi, sementara Iran bisa merembet ke isu moral dan agama jika AS tidak hati-hati. Selain itu AS beranggapan bahwa isu nuklir Korut jauh lebih krusial dibandingkan nuklir Iran. Sebab, Iran sebenarnya hanya memiliki teknologi rudal tapi belum memiliki sistem persenjataan nuklir. Sementara itu, Korut memiliki senjata nuklir dan sistem persenjataannya. Isu nuklir Korut, juga sudah lama mengancam serta mempengaruhi sekutu-sekutu AS di Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan. Meski krusial, AS menganggap isu nuklir Korut lebih mudah ditangani, karena AS mendapat dukungan penuh dari tiga sekutunya itu bahkan dunia internasional soal denuklirisasi di Semenanjung Korea.
Kekurangan: Pada jurnal ini tidak disebutkan secara spesifik bagaimana solusi menjaga keamanan di Semenanjung Korea, sehingga siklus dilema keamanan akan terus terjadi. Pada jurnal ini juga tidak dicantumkan secara detail tanggal per tanggal dari kejadian penting antara hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat beserta aliansinya, untuk mengetahui detail tanggalnya kita bisa melihat laman SindoNews dengan judul "Timeline Kim jong-un dan Trump seteru nuklir hingga akur".
